Rabu, 17 Mei 2017

PERBANDINGAN ANTAR ITIL,COBIT DAN MOF

PENGERTIAN

ITIL (Information Technology Infrastructure Library) adalah suatu rangkaian dengan konsep dan teknik pengelolaan infrastruktur, pengembangan, serta operasi teknologi informasi (TI). ITIL diterbitkan dalam suatu rangkaian buku yang masing-masing membahas suatu topik pengelolaan (TI). Nama ITIL dan IT Infrastructure Library merupakan merek dagang terdaftar dari Office of Government Commerce (OGC) Britania Raya.

COBIT (Control Objective for Information & Related Technology) adalah sekumpulan dokumentasi best practice untuk IT Governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen, untuk menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan kontrol dan masalah-masalah teknis IT (Sasongko, 2009).

MOF (Microsoft Operation Framework) adalah sekumpulan prinsip, teknik, dan model teruji di lapangan (best practices) untuk mengelola layanan TI.

KERANGKA KERJA

KERANGKA KERJA ITIL
Pada 30 Juni 2007, OGC (Office of Government Commerce) menerbitkan versi ketiga ITIL (ITIL v3) yang intinya terdiri dari lima bagian dan lebih menekankan pada pengelolaan siklus hidup layanan yang disediakan oleh teknologi informasi. Kelima bagian tersebut adalah:
1. Service Strategy
Inti dari ITIL Service Lifecycle adalah Service Strategy.
Service Strategy memberikan panduan kepada pengimplementasi ITSM pada bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tapi juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses inti yang beroperasi di keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.
Topik-topik yang dibahas dalam tahapan lifecycle ini mencakup pembentukan pasar untuk menjual layanan, tipe-tipe dan karakteristik penyedia layanan internal maupun eksternal, aset-aset layanan, konsep portofolio layanan serta strategi implementasi keseluruhan ITIL Service Lifecycle. Proses-proses yang dicakup dalam Service Strategy, di samping topik-topik di atas adalah:
• Service Portfolio Management
• Financial Management
• Demand Management
Bagi organisasi TI yang baru akan mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk menentukan tujuan/sasaran serta ekspektasi nilai kinerja dalam mengelola layanan TI serta untuk mengidentifikasi, memilih serta memprioritaskan berbagai rencana perbaikan operasional maupun organisasional di dalam organisasi TI.
Bagi organisasi TI yang saat ini telah mengimplementasikan ITIL, Service Strategy digunakan sebagai panduan untuk melakukan review strategis bagi semua proses dan perangkat (roles, responsibilities, teknologi pendukung, dll) ITSM di organisasinya, serta untuk meningkatkan kapabilitas dari semua proses serta perangkat ITSM tersebut.
2. Service Design
Agar layanan TI dapat memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI tersebut harus terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari pelanggan. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage dan sebagainya.
Ruang lingkup Service Design tidak melulu hanya untuk mendesain layanan TI baru, namun juga proses-proses perubahan maupun peningkatan kualitas layanan, kontinyuitas layanan maupun kinerja dari layanan.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Design yaitu:
1. Service Catalog Management
2. Service Level Management
3. Supplier Management
4. Capacity Management
5. Availability Management
6. IT Service Continuity Management
7. Information Security Management
3. Service Transition
Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang dirubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
1. Transition Planning and Support
2. Change Management
3. Service Asset & Configuration Management
4. Release & Deployment Management
5. Service Validation
6. Evaluation
7. Knowledge Management
4. Service Operation
Service Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif serta menjamin tingkat kinerja yang telah diperjanjikan dengan pelanggan sebelumnya. Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja layanan TI.
Proses-proses yang dicakup dalam Service Transition yaitu:
1. Event Management
2. Incident Management
3. Problem Management
4. Request Fulfillment
5. Access Management
5. Continual Service Improvement
Continual Service Improvement (CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas, salah satunya adalah Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau yang dikenal sebagi Deming Quality Cycle
Sebuah perusahaan yang mengimplementasi ITIL secara nyata tentunya mendapat banyak sekali keuntungan, misalnya, pelayanan IT menjadi lebih fokus kepada departemen lainnya di dalam satu perusahaan, biaya lebih efisien dan dapat diatur dengan baik, serta perubahan-perubahan IT yang dapat lebih mudah untuk diatur, dan masih banyak keuntungan lainnya yang pada akhirnya akan berdampak pada income perusahaan itu sendiri.

Berikut Kerangkanya : 





KERANGKA KERJA COBIT
Control Objectives
Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat-tinggi (high-level control objectives) yang terbagi dalam 4 domain, yaitu : Planning & Organization , Acquisition & Implementation , Delivery & Support , dan Monitoring & Evaluation.

Audit Guidelines
Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendalian yang bersifat rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikan management assurance dan/atau saran perbaikan.

Management Guidelines
Berisi arahan, baik secara umum maupun spesifik, mengenai apa saja yang mesti dilakukan, terutama agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

v  Sejauh mana TI harus bergerak atau digunakan, dan apakah biaya TI yang dikeluarkan sesuai dengan manfaat yang dihasilkannya.

v  Apa saja indikator untuk suatu kinerja yang bagus.

v  Apa saja faktor atau kondisi yang harus diciptakan agar dapat mencapai sukses ( critical success factors ).

v  Apa saja risiko-risiko yang timbul, apabila kita tidak mencapai sasaran yang ditentukan.

v  Bagaimana dengan perusahaan lainnya, apa yang mereka lakukan.

v  Bagaimana mengukur keberhasilan dan bagaimana pula membandingkannya.

KERANGKA KERJA MOF

Tahapan Siklus Hidup MOF 4.0 Siklus hidup MOF 4.0 terdiri dari tiga tahapan yang sedang berlangsung dan satu tahapan dasar yang beroperasi di seluruh semua tahapan antara lain:

A.Tahap Perencanaan
Tahap ini bertujuan untuk merencanakan dan mengoptimalkan strategi layanan TI      dalam rangka mendukung tujuan bisnis dan tujuan.

B.Tahap Penyampaian
Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa layanan TI yang dikembangkan secara efektif, dikerahkan berhasil, dan siap untuk dioperasikan.

C.Tahap Operasional
Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa layanan TI dioperasikan, dipelihara, dan didukung dengan cara yang memenuhi kebutuhan bisnis dan harapan.

D.Tahap Pengelolaan
Tahap ini bertujuan untuk memberikan prinsip operasi dan best practice untuk memastikan bahwa investasi di TI memberikan nilai bisnis yang diharapkan serta dapat menangani risiko. Tahap ini berkaitan dengan tata kelola TI, risiko, kepatuhan, peran dan Tahapan proses ini berlangsung di setiap tahapan di dalam siklus hidup MOF 4.0.

Berikut Kerangkanya : 




MANFAAT
Manfaat ITIL
Manfaat ITIL ini merupakan pendekatan sistematis untuk management layanan TI. ITIL dapat membantu perusahaan dalam cara berikut:
  1. Mengurangi biaya
  2. Pengunaan proses praktik terbaik yang sudhah terbukti meningkatkan kepuasan pelanggan.
  3. Meningkatkan produktivitas
  4. Meningkatkan penggunaan keterampilan dan pengalaman
  5. Meningkatkan penyampaian layanan pihak ketiga melalui spesifikasi ITIL atau ISO 20000
    Manfaat dan Pengguna COBIT

Secara manajerial target pengguna COBIT dan manfaatnya adalah :

Direktur dan Eksekutif
Untuk memastikan manajemen mengikuti dan mengimplementasikan strategi searah dan sejalan dengan TI.

Manajemen
v  Untuk mengambil keputusan investasi TI.
v  Untuk keseimbangan resiko dan kontrol investasi.
v  Untuk benchmark lingkungan TI sekarang dan masa depan.

Pengguna
Untuk memperoleh jaminan keamanan dan control produk dan jasa yang dibutuhkan secara internal maupun eksternal.

Auditors
v  Untuk memperkuat opini untuk manajemen dalam control internal.
v  Untuk memberikan saran pada control minimum yang diperlukan. 

    Manfaat MOF
    Adapun keuntungan menggunakan MOF 4.0 antara lain :
  1. Mengurangi risiko dengan adanya koordinasi antar tim.
  2. Dapat mengenali dampak yang terjadi jika dikaji dengan kebijakan yang ada.
  3. Mengantisipasi dan mengurangi dampak dari mitigasi.
  4. Menemukan kemungkinan permasalahan integrasi sebelum produksi.
  5. Mencegah masalah kinerja dengan mengantisipasi thresholds.
  6. Efektif beradaptasi dengan kebutuhan bisnis baru.
Daftar Pustaka :
http://hilmisays.blogspot.co.id/2016/03/pengertian-itil-dan-cobit.html
https://haendra.wordpress.com/2017/03/17/manajemen-layanan-sistem-informasi/
https://mumtazgaler.wordpress.com/2017/03/17/manajemen-layanan-sistem-informasi/
https://rulifahruli24.wordpress.com/2016/04/25/microsoft-operations-framework/

Senin, 17 April 2017

REVIEW JURNAL INTERNASIONAL MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI

Peringkas                     Andru Tri Setyo
Tanggal                       17 April 2017
Topik                         “Manajemen Berbasis Sekolah dengan atau tanpa Kepemimpinan Instruksional :                                  Pengalaman dariSwedia”
Penulis                        Erik Lindberg dan Vladimir Vanyushyn
Tahun                         2013
Judul                          School Based Management with or without Instructional Leadership :                                                Experience from Sweden
Jurnal                          Journal of Education and Learning;
Vol. dan Halaman         Vol. 2, No. 3 dan Hal. 39 - 50
Abstrak                       Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi  kepala sekolah                                                        tentang pentingnya manajemen berbasis sekolah (MBS) dan kepemimpinan
                                   instruksional serta penilaian mereka terhadap kinerja tugas-tugas tersebut
                                   disekolah menengah atas di Swedia. Kajian  pustaka  tentang  MBS dan hasil
                                   kepemimpinan struksional dilakukan terhadap sebuah  daftar yang berisi dua
                                   puluh satu kelompok tugas, meliputi tugas administrasi, pemadam  kebakaran,
                                  dan kepemimpinan instruksional. Hasil analisis survei terhadap 234 kepala                                         sekolah menunjukkan bahwa 80%  tugas administrasi dan 75% tugas 
                                   pemadam kebakaran terlihat sebagai tugas yang sangat  penting dan berkinerja
                                   baik Sementara  68% dari tugas  kepemimpinan  instruksional dianggap
                                   kurang penting dalam kinerja. Implikasinya terhadap kepala sekolah dan 
                                   pembuat kebijakan  perlu di bahas penting dilakukan untuk penelitian masa 
                                   depan.    
                                  Kata kunci : manajemen berbasissekolah,kepemimpinan instruksional, Swedia.

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Menurut Wohlstetter dan Mohrman, dkk. (1997), terdapat empat kewenangan (otonomi) dan tiga prasyarat yang bersifat organisasional yang seharusnya dimiliki sekolah dalam mengimplementasikan MBS. Hal itu berkaitan dengan: (1) kekuasaan (power) untuk mengambil keputusan, (2) pengetahuan dan keterampilan, termasuk untuk mengambil keputusan yang baik dan pengelolaan secara profesional, (3) informasi yang diperlukan oleh sekolah untuk mengambil keputusan, (4) penghargaan atas prestasi (reward), (5) panduan instruksional (pembelajaran), seperti rumusan visi dan misi sekolah yang menfokuskan pada peningkatan mutu pembelajaran, (6) kepemimpinan yang mengupayakan kekompakan (kohesif) dan fokus pada upaya perbaikan atau perubahan, serta (7) sumber daya yang mendukung.
Peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembagunan di bidang pendidikan nasional dan merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara menyeluruh. Amanat dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menyadari hal tersebut, pemerintah telah melakukan upaya penyempurnaan sistem pendidikan, baik melalui penataan perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware). Upaya tersebut, antara lain dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, serta diikuti oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang secara langsung berpengaruh terhadap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan. Jika sebelumnya manajemen pendidikan merupakan wewenang pusat dengan paradigma top-down atau sentralistik, maka dengan berlakunya undang-undang tersebut kewenangan bergeser pada pemerintah daerah kota dan kabupaten dengan paradigma Buton-up atau desentralistik, dalam wujud pemberdayaan sekolah/madrasah.
Dalam kaitan ini, visi, misi dan strategi Pemerintah pada tingkat kabupaten dan kota harus dapat mempertimbangkan dengan bijaksana kondisi nyata sekolah/madrasah dan masyarakat, dan harus pula mendukung kebijakan nasional yang menjadi prioritas pemerintah, serta harus mampu memelihara garis kebijakan dan garis birokrasi yang lebih tinggi. Ketentuan tersebut telah diundangkan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, Pasal 52 ayat (1), bahwa “Pengelolaan satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar , dan pendidikan menengah dilaksanakan standar pelayanan minimal dengan prinsip Manajemen Berbasis Sekolah/Madrasah”.
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) atau School Based Management (SBM) merupakan strategi untuk mewujudkan sekolah yang efektif dan produktif. MBS merupakan paradigma baru manajemen pendidikan yang memberikan otonomi luas pada sekolah, dan pelibatan masyarakat dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS mempunyai karakteristik antara lain : pemberian otonomi luas kepada kepala sekolah, tingginya partisipasi masyarakat dan orangtua, kepemimpinan yang demokratis dan profesional, team-work yang kompak dan transparan.
Berkaitan dengan kebijakan pemerintah Indonesia tersebut, penulis akan mencoba mereviw atau mengulas Artikel Jurnal Internasional Pendidikan dan Pembelajaran yang berjudul “School-Based Management with bor without Instructional Leadership : Experince krom Sweden” yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia adalah “Manajemen Berbasis Sekolah dengan atau tanpa Kepemimpinan Instruksional : Pengalaman dari Swedia”.

B.  Tujuan
Tujuan penulis dalam mengadakan review Jurnal Internasional ini adalah :
1.    Untuk mengetahui konsep Manajemen Berbasi Sekolah secara utuh;
2.  Untuk mengetahui konsep Manajemen Berbasis Sekolah dengan atau tanpa Kepemimpinan Instruksional : Pengalaman dari Swedia.

C.  Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari review Jurnal Internasional ini adalah :
1.   Bagi akademisi sebagai kepentingan ilmiah, yaitu untuk menambah khasanah keilmuan terutama yang menyangkut tentang Manajemen Berbasis Sekolah (MBS);
2.   Bagi penulis sebagai persyaratan formal, yaitu untuk memenuhi tugas pada Mata Kuliah Metode Penelitian Pendidikan (Kuantitatif)
3.    Bagi penulis, penelitian ini bermanfaat untuk lebih memahami dan menerapkan pengetahuan yang dimiliki dan dapat dipakai untuk bahan pertimbangan  tugas berikutnya.

BAB II
RINGKASAN ARTIKEL

A.    Pengantar
Selama sepuluh tahun terakhir tidak ada satu pun negara baik  AS , Eropa maupun negara “Down Under”(Australia dan Selandia Baru)yang  ketinggalan mengikuti  reformasi yang terinspirasi oleh NPM dan pengaruhnya selama tiga dekade terakhir. Penentuan akan desentralisasi, otonomi, Manajemen berbasis Sekolah ( MBS ),kepemimpinan, akuntabilitas, dan efisiensi sekolah ditentukan oleh politisi dan pembuat kebijakan ( Pont et al., 2008). Kebangkitan dan difusi gerakan akuntabilitas kini  semakin mengglobal dan memfokuskan pada sekolahyang diukur dengan cara yang berbeda. Perhatian dipusatkan padahasil pencapaian siswa dan untuk mencapai tujuan tersebut dipergunakan rancangan peran terpusat yang dinamakan Manajemen Berbasis Sekolah ( MBS ). Sekolah Berbasis Manajemen dapat digambarkan sebagai manajemen sekolah yang terfokus pada misi sekolah yangjelas, mendefinisikan tujuan, menjalankan dan mengelola program pembelajaran serta memperkenalkan iklim belajar yang positif( Hallinger , 2001). Menurut Hallinger ( 2010), hubungan antara akuntabilitas dan perbaikan sekolah dengan MBS dan kepemimpinan instruksional cenderung dekat.Kecenderungan saat ini menunjukkan bahwa minat sekolah akan masalah tersebut menyebar sesuai dengan teori difusi ( Rogers , 1995 ) dan pertama kali berkembang terutama di negara-negara Anglo –Saxon yang diikuti oleh berbagai negara( Gerwetz , 2003; Southworth, 2002). Hallinger ( 2005, hal. 230 ) menyebut peningkatan ketertarikan tersebut sebagai  "tsunami global."
Berdaras pengalaman  negara-negara Anglo -Saxon telah ditunjukkan betapa sulitnya memadukan antara MBS dengan kepemimpinan instruksional. Peran yang kompleks dengan banyak tugas yang heterogen tidak selalu memungkinkan kepala untuk menghabiskan waktu untuk mengembangkan isu pedagogis yang mereka anggap penting . Namun, artikel ini berusaha menjawab bagaimana masalah ini bekerja dinegara  non- Anglo -Saxon, yaitu negara Skandinavia Swedia . Dengan demikian, Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji persepsi kepala sekolah tentang pentingnya kepemimpinan instruksional dan penilaian mereka terhadap kinerja. Penelitian ini berfokus pada sekolah menengah atas. Tingkatan SMU merupakanmata rantai terakhir setelah lebih dari sepuluh tahun masa pendidikansebelum memasuki universitas dan akan bersaing di level internasional.

B.     Kajian Pustaka
1.      Manajemen Berbasis Sekolah dan Hasil
MBS telah ada selama lebih dari tiga dekade . Pada akhir 70-an MBS telah menempati agenda kebijakan yang penting ( De Grauwe , 2005). MBS bertumpu pada asumsi bahwa otonomi dan desentralisasi akan memungkinkan para pengambil keputusan untuk lebih memenuhi harapan berbagai  kepentingan ( Cheng & Mok , 2007). Ketika  arah reformasi MBS adalah sama- yaitu, menuju desentralisasi –kadar dan penekanan pentingnya hal itu dapat bervariasi ( Moos , 2008 ). Ada berbagai macam Strategi MBS , mulai dari otonomi sekolah secara penuh dan wewenang penuh akan pendidikan, keuangan dan persoalan personil
yang  memungkinkan sekolah untuk menjalankan otonomi atas isu-isu tertentu (Gertler dkk., 2007 ). Menurut Briggs & Wohlstetter ( 2003), MBS telah diperkenalkan dalam rangka meningkatkan akuntabilitas sekolah, kinerja siswa, dan administrasi yang efisien seperti halnya pemberdayaan para guru. Leithwood & Menzies ( 1998) membuat review MBS di negara-negara berbahasa Inggris dan semua kepala sekolah tersebut melaporkan bahwa mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk manajemen dan kurang untuk mengajar dan pedagogi setelah implementasi MBS. Beban kerja untuk kepala sekolah di negara-negara telah menjadi lebih kompleks, beragam dan
memakan waktu , dengan beberapa kepala sekolah melaporkan bahwa mereka bekerja hingga 60 jam atau lebih per minggu ( Macbeth, 2009). Pelakumenggunakan ekspresi seperti " sedang terjepit " untuk menggambarkan situasi mereka . Menurut Phillips et al. ( 2007 ) , peran kepala sekolah di Inggris telah berubah secara radikal , dan beban kerja dan kerja yang panjang jam telah menyebabkan kedua stres dan ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi .Secara khusus , disebutkan bahwabeban kerja administratif telah meningkat paling signifikan ( Harvey & Sheridan , 1995; Wylie , 1999; Harold et. al , 2001;. Cranston, 2000, Cranston et al  2003; Fitzgerald et al , 2006).

2.      Kepemimpinan Instruksional
Era ini dipengaruhi oleh manajemen publik baru manajemen yang secara obyektif didominasi alat yang dirancang untuk mencapai tujuan sehingga komitmen kepala sekolah menjadi faktor penting ( Lindberg , 2009). Konsep ini dikenal untuk mempengaruhi kinerja dan pemimpin instruksional yang  lebih  berorientasi pada tujuan ( Hallinger , 2005) . Kebutuhan sekolah untuk merespon tekanan pada kinerja murid memotivasi untuk menciptakan alat untuk meningkatkan kinerja dan , menurut Bumburg & Andrews ( 1990), kepemimpinan instruksional terpusatupaya mencapai sekolah yang efektif. Menurut Blase & Blase ( 1998 ) definisi kepemimpinan instruksional bertumpu pada persepsi bahwa ada campuran berbagai kegiatan dan dalam kajian tersebut dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan instruksional itu sangat kompleks dan menuntut. Namun sebagian besar ilmuwan, seperti Hallinger (2005 ) , melihat adanya tiga dimensi utama dalam kepemimpinan kepala sekolah. Yang pertama adalah untuk memastikan bahwa sekolah harus memiliki misi yang jelas, mendefinisikan misi berarti menentukan tujuan sekolah dengan menyusun dan mengkomunikasikan misi tersebut. Yang kedua adalah untuk terfokus pada pengelolaan program instruksional yang meliputi kondisi, pengawasan, evaluasi dan pengendalian program pengajaran sekolah serta koordinasi kurikulum dan memonitor kemajuan siswa. Dimensi terakhir adalah meningkatkan iklim belajar yang positif, termasuk berbagai kegiatan seperti peningkatan pengembangan pribadi, menciptakan pendorong bagi guru atau pembelajaran, serta harapan dan standar yang tinggi untuk mempertahankan visibilitas tinggi dan melindungi waktu pembelajaran. Dengan demikian , fokus dari penelitian ini adalah memetakan kegiatan dalam kategori yang berbeda yang sering dilakukan oleh kepala sekolah . Tiga kategori kegiatan adalah (1) kegiatan keuangan dan administrasi, (2) pemecahan masalah mendesak, (3) isu pedagogi untuk meningkatkan dan mempertahankan kualitas dalam pendidikan yang dilaksanakan dengankegiatan yang berhubungan dengan kepemimpinan instruksional.

C.    Metode
1.      Sampel dan Pengumpulan Data
Dengan tujuan mengetahui pentingnya prinsip sekolah dan upaya yang ditujukan untuk menyelesaikan berbagai tugas, kami menyebarkan kuesioner kepada kepala sekolah dari seluruh sekolah menengah atas di Swedia. Alamat-alamat diperoleh dari  situs resmi Badan Nasional Swedia untuk Pendidikan. Untuk meningkatkan tingkat respon, surat pertama harus dikembalikan oleh  kuesioner setelah periode sekolah sudah usai dan nilai akhir siswa telah dilaporkan . Dengan demikian, kuesionerdibagikan kepada responden selama paruh pertama Juni 2008. Setelah kuesioner gelombang pertama terkumpul, kartu pos pengingat dikirim juga pada nun-responden. Kuesioner kedua dikirim pada minggu terakhir Juni ,
sebelum istirahat musim panas resmi. Akhirnya , kuesioner ketiga dikirim pada pertengahan Agustus, setelah masa studi resmi dimulai tetapi sebelum siswa tiba di sekolah. Upaya pengumpulan data juga dilengkapi dengan kartu pos pengingat. Dalam rangka untuk menjamin kerahasiaan responden, hasil survei bagian kepppemimpinan instruksional harus dikembalikan dalam amplop tepisah sehingga tidak mungkin untuk mencocokkan jawaban ini dengan lokasi atau sekolah jenis responden. Secara total, dari sampel asli dari 780 kepala sekolah, kami telah menerima 311 tanggapan, yang 234 dapat digunakan, yaitu, tidak terdapat nilai-nilai yang hilang secara sistematis. Jumlah ini sesuai dengan tingkat tanggapan 30 %. Untuk menghindari potensbias dari  non-responden, kami membandingkan tanggapan gelombang pertama dan tanggapan gelombang terakhir. Kami tidak mengidentifikasi adanya perbedaan yang signifikan secara statistik antara responden pada variabel seperti yang dilaporkan pada Tabel 1.

2.      Variabel dan Tindakan
Variabel menggambarkan apa tugas kepala selama seminggu, dan pengelompokan tugas-tugas , yang dipilih setelah kajian pustaka secara menyeluruh. Kegiatan yang berkaitan dengan kepemimpinan instruksional didasarkan pada konseptual seperti yang dikemukakan oleh Hallinger ( 2010), tetapi juga dipengaruhi oleh Blase & Blase ( 1998) , Sheppard ( 1996 ) , Murphy ( 1988 ) , Donmoyer& Wagstaff ( 1990 ). Berdasarkan konsep yang dikemukakan oleh tokoh tersebut, kami telah mengidentifikasi tiga kelas yang luas dari tugas kepala sekolah : tugas-tugas administrasi ( yang juga mencakup masalah keuangan ) , tugas pemadam kebakaran yang berarti pemecahan masalah yang bersifat mendesak , dan tugas pedagogis yang didefinisikan sebagai pengelolaan kepemimpinan instruksional.Tugas administratif dituangkan dalam lima item yang berasal dari perdebatan ilmiah tentang apa peran MBS bagi kepala , dirumuskan dalam pertanyaan 1 sampai 5 seperti dilaporkan dalam Tabel 1 , yang dimasukkan dalam kategori administrasi. Peran desentralisasi berarti bahwa banyak masalah keuangan dan administrasi karakter yang harus diputuskan oleh kepala sekolah . Ini berarti mereka harus bertanggung jawab atas masalah mendasar seperti pembuatan anggaran secara menyeluruh dan memastikan kinerja ekonomi pada tingkat yang lebih operatif.

D.    Analisis dan Hasil
Gambaran  variabel kunci, mean, dan standar deviasi  dilaporkan dalam Tabel 1. Kolom kedua pada tabel  menunjukkan apakah tugas masuk ke dalam kategori administrasi ( A ), pemadam kebakaran ( F ), atau pedagogis ( P ). Mengingat bahwa tujuan penelitian ini untuk menguji persepsi kepala sekolah tentang betapa pentingnya berbagai aspek dalam manajemen berbasis sekolah dan seberapa baik berfungsi, kami melanjutkan untuk menguji apakah ada perbedaan yang dirasakan antara pentingnya tugas dengan kinerja.
dalam tabel 1 dilaporkan bahwa terdapat  perbedaan yang berarti antara penting dan kinerja dengan menggunakan  signifikansi t-test berpasangan. Untuk membantu interpretasi, kolom terakhir juga melaporkan arah perbedaan, yaitu, apakah kinerja tugas  dianggap sebagai lebih tinggi dari pentingnya (P > I) atau visa – Vera ( I > P ). Tidak ada perbedaan yang signifikan menunjukkan bahwa pentingnya tugas setara dengan kinerja yang dirasakan, dan ditandai sebagai (ns).
Secara keseluruhan, tampaknya ada kesenjangan yang signifikan dalam persepsi tentang kepentingan relatif dan kinerja relatif dalam tugas yang berbeda, dengan 15 dari 21 tugas menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam tes berpasangan. Perlu dicatat bahwa dalam kelompok administratif dan tugas pemadam kebakaran menunjukkan bahwa kinerja umumnya dipersepsikan lebih tinggi dan penting, dengan cara lebih dari 3 pada kinerja dan kepentingan . Untuk membantu dalam interpretasi hasil , kami mewakili temuan kami dalam matriks 2x2, dengan kinerja yang Tinggi / Rendah pada sumbu vertikal dan Pentingnya menjadi tinggi / rendah pada sumbu horisontal. Walaupun masih kasar, dengan beberapa pendekatan ringkas sebagian besar informasi sudah terkandung dalam Tabel 1.

E.     Pembahasan
Penelitian ini mengkaji bagaimana negara-negara seperti Swedia yang menerapkan MBS  telah menciptakan peran yang tidak terlalu menghabiskan waktu dalam menghadapi beban administrasi dan memecahkan masalah mendesak. Jadi , kami berangkat dari persepsi sekolah akan pentingnya berbagai kegiatan kepemimpinan serta penilaian kinerja relatif dalam berbagai aspek. Pada akhirnya dapat diidentifikasi total 21 tugas  yang dikelompokkan ke dalam aspek administrasi, pemadam kebakaran dan kegiatan kepemimpinan instruksional. Secara empiris penelitian bergantung pada tanggapan dari 234 kepala sekolah di Swedia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 80 %  dari aspek administrasi dan 75 % tugas pemadam kebakaran dipandang sebagai sangat penting. Menurut Gallvan ( 2001), masalah dengan pelaksanaan dimulai dalam lingkungan lokal adalah pekerjaan sehari-hari dilakukan. Pelajaran yang dipetik dari penelitian ini adalah bahwa pengikut yang bertujuan untuk membuat pelaksana sukses harus belajar untuk melihat apakah suite konteks lokal mereka sebelum membuat keputusan final dan tidak memutuskan untuk menerapkan dalam kritis berdasarkan laporan dari Anglo –Saxon negara. Untuk meringkas, penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi MBS dan kepemimpinan instruksional bekerja di Swedia mirip dengan negara-negara Anglo -Saxon. Dalam kedua kasus, kepala menggambarkan bahwa daerah pedagogis harus bekerja lebih baik, tetapi di Swedia adalah sikap terhadap bertindak sesuai dengan apa yang dibutuhkan untuk kepemimpinan instruksional sukses tidak seperti yang diharapkan . Dalam banyak item penting seperti " untuk menciptakan budaya sekolah dengan penekanan pada inovasi dan perbaikan dalam mengajar ", " untuk membuat perbaikan terus-menerus melalui terencana dan kegiatan rutin " atau "untuk mengembangkan / mempertahankan tim guru yang bekerja" kepala tidak melihat mereka sebagai manajemen penting . Ini menunjukkan bahwa kepala sekolah tidak melihat penting untuk mengelola kegiatan ini sendiri . di www.ccsenet.org / jel Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol . 2 , No 3; 2013 47 konteks Swedia adalah tanggung jawab untuk menjalankan desentralisasi kepada para guru dan bahkan jika prinsip-prinsip melakukan melihat sebagai sangat penting bahwa mereka menjalankan kegiatan mereka melihat isu pedagogis penting. Hal ini menunjukkan bahwa Kepala sekolah Swedia tidak memilih pendekatan kepemimpinan instruksional . Persoalan pedagogis seperti melaksanakan dan menjalankan program kepemimpinan instruksional hanya berada dalam angan-angan. Namun, penelitian ini dapat dikaji lebih dalam karena ada banyak kepala sekolah yang menempatkan persoalan pedagogis sebagai kurang penting seperti halnya persoalan kinerja yang dapat dijadikan landasan bagi pengetahuan baru. Hasil menunjukkan bahwa jika negara-negara seperti Swedia menerapkan manajemen berbasis sekolah, harus secara teori dapat dilengkapi dengan kepemimpinan instruksional . Hasil dalam penelitian ini menunjukkan, bagaimanapun , kepala sekolah dengan kurang motivasi untuk melaksanakan dan menjalankan program kepemimpinan instruksional. Pengetahuan tentang alasan mengapa kombinasi sekolah berbasis manajemen dan kepemimpinan instruksional dapat melihat manfaat dalam teori tetapi bahwa kondisi lokal dapat membuat sulit untuk menjadi sukses dalam prakteknya harus diperluas sehingga negara-negara yang ingin mengikuti jalan ini pelaksanaan bisa mendapatkan keuntungan dari pengalaman negara-negara lain . Salah satu keterbatasan dari studi ini adalah bahwa hanya kepala di sekolah menengah atas telah dipelajari . menurut Lampart ( 1998 ) ini adalah tingkat pendidikan ditandai dari pengetahuan yang lebih khusus dan berkualitas yang tidak diperlukan untuk para pelaku di tingkat bawah dalam sistem pendidikan. 

F.     Kesimpulan
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji persepsi kepala sekolah tentang pentingnya  sekolah berbasis manajemen ( SBM ) dan tugas kepemimpinan instruksional serta penilaian mereka terhadap kinerja di
SMA Swedia. Setelah melakukan tinjauan pustaka tentang SBM dan kepemimpinan instruksional maka dapat dikembangkan daftar yang berisi 21 tugas yang dapat dikelompokkan ke dalam tugas administrasi , pemadam kebakaran, dan kepemimpinan instruksional. Berdasarkan hasil pengumpulan data dari survei terhadap 234 kepala sekolah, kami menemukan bahwa 80 % dari administrasi dan 75% tugas pemadam kebakaran
dipandang sebagai sangat penting dan dilakukan dengan baik, sementara 68 % dari tugas kepemimpinan instruksional dipandang sebagai kurang penting dari kinerja. Secara keseluruhan, pola respon yang ditemukan menunjukkan bahwa kombinasi MBS dan kepemimpinan instruksional di Swedia bekerja secara mirip dengan negara-negara Anglo -Saxon. Namun, banyak kepala sekolah  melihat tugas-tugas kepemimpinan instruksional sebagai aspek yang dapat dikesampingkan dan mereka tidak memandang beberapa kegiatan penting sebagai kegiatan yang sama penting. Namun, hal ini tidak berarti bahwa mereka mengurangi peningkatan kualitas di daerah pedagogis. Pertanyaan yang masih harus dikaji ulang adalah apakah kepala sekolah tidak melihat kepemimpinan instruksional sebagai alat terbaik untuk meningkatkan kualitas pedagogik dan peningkatan kinerja siswa.

BAB III
PEMBAHASAN

  Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) salah satu wujud reformasi pendidikan yang memberikan otonomi kepada sekolah untuk mengatur kehidupan sesuai potensi, tuntutan dan kebutuhannya. Otonomi dalam manajemen merupakan potensi bagi sekolah untuk meningkatkan kinerja para tenaga kependidikan, menawarkan partisipasi langsung kelompok-kelompok terkait, dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pendidikan. Dengan penerapan MBS, sekolah memiliki “full authority and respontibility” dalam menetapkan program-program pendidikan dan berbagai kebijakan sesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan (Mohrman And Wihlsetter, 1994). MBS bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, mutu, dan pemerataan pendidikan. Peningkatan efisiensi antara lain, diperoleh melalui kekuasaan mengelola sumber daya partisipasi masyarakatdan penyederhanaan birokrasi. Sementara peningkatan mutu dapat diperoleh, antara lain, melalui revitalisasi partisipasi orang tua terhadap sekolah, fleksibelitas pengelolaan sekolah dan pembelajaran, peningkatan profesionalisme guru dan kepala sekolah, serta berlakunya sistem hadiah dan hukuman. Emapat faktor penting yang perlu diperhatikan dalam implementasi MBS, yaitu kekuasaan, pengetahuan dan ketrampilan, sistem informasi, serta sistem penghargaan (diadaptasi dari Depdiknas, 2012)
  Dari tulisan artikel pada jurnal tersebut tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji persepsi kepala sekolah tentang pentingnya  sekolah berbasis manajemen ( SBM ) dan tugas kepemimpinan instruksional serta penilaian mereka terhadap kinerja di
SMA Swedia. Setelah melakukan tinjauan pustaka tentang SBM dan kepemimpinan instruksional maka dapat dikembangkan daftar yang berisi 21 tugas yang dapat dikelompokkan ke dalam tugas administrasi , pemadam kebakaran, dan kepemimpinan instruksional. Penelitian ini mengkaji bagaimana negara-negara seperti Swedia yang menerapkan MBS  telah menciptakan peran yang tidak terlalu menghabiskan waktu dalam menghadapi tugas administrasi dan secara keseluruhan, pola respon yang ditemukan menunjukkan bahwa kombinasi MBS dan kepemimpinan instruksional di Swedia bekerja secara mirip dengan negara-negara Anglo -Saxon. Namun, banyak kepala sekolah  melihat tugas-tugas kepemimpinan instruksional sebagai aspek yang dapat dikesampingkan dan mereka tidak memandang beberapa kegiatan penting sebagai kegiatan yang sama penting. Namun, hal ini tidak berarti bahwa mereka mengurangi peningkatan kualitas di daerah pedagogis. Pertanyaan yang masih harus dikaji ulang adalah apakah kepala sekolah tidak melihat kepemimpinan instruksional sebagai alat terbaik untuk meningkatkan kualitas pedagogik dan peningkatan kinerja siswa memecahkan masalah mendesak. Jadi , kami berangkat dari persepsi sekolah akan pentingnya berbagai kegiatan kepemimpinan serta penilaian kinerja relatif dalam berbagai aspek. Pada akhirnya dapat diidentifikasi total 21 tugas  yang dikelompokkan ke dalam aspek administrasi, pemadam kebakaran dan kegiatan kepemimpinan instruksional.
  Menurut Mulyasa (2005:98), Kepala Sekolah merupakan “sosok kunci” (the key person) keberhasilan peningkatan kualitas pendidikan di sekolah dalam kerangka implementasi MBS. Oleh karena itu, dalam implementasi MBS kepala sekolah harus memiliki visi, misi, dan wawasan yang luas tentang sekolah yang efektif serta kemampuan profesional dalam mewujudkannya melalui perencanaan, kepemimpinan, manajerial, dan supervisi pendidikan. Kepala sekolah juga dituntut untuk menjalin kerjasama yang harmonis dengan berbagai pihak yang terkait dengan program pendidikan di sekolah. Singkatnya, dalam implementasi MBS, kepala sekolah harus mempu berperan sebagaieducator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator dan motivator. Jadi kalau kita kaitkan dengan MBS yang dilaksanakan di Swedia maka tugas kepala sekolah kurang relevan dengan teori yang telah dikemukakan oleh Mulyasa tersebut. Mengapa demikian karena MBS yang diterapkan di Swedia kepala sekolah telah mengesampingkan tugas kepemimpinan instruksional, dan sekolah hanya disibukkan dengan urusan tugas administrasi dan pemadam kebakaran walaupun tidak berarti bahwa mereka mengurangi peningkatan kualitas di daerah pedagogis. Pertanyaan yang masih harus dikaji ulang adalah apakah kepala sekolah tidak melihat kepemimpinan instruksional sebagai alat terbaik untuk meningkatkan kualitas pedagogik dan peningkatan kinerja siswa memecahkan masalah mendesak.
  Menurut Nurkholis (2003:264), ada enam faktor pendukung keberhasilan implementasi MBS. Keenamnya mencakup: political will, finansial, sumber daya manusia, budaya sekolah, kepemimpinan, dan keorganisasian. Keberhasilan implementasi MBS di Indonsia tidak terlepas dari dasar hukum implementasi MBS yang tertuang dalam berbagai kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah juga sebagai dasar bagi sekolah untuk lebih leluasa dalam mengembangkan pendidikan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Salah satu contoh dukungan pemerintah dalam pelaksanaan MBS, adalah adanya panduan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS). Pada tingkat sekolah, kepala sekolah sebagai figure kunci dalam mendorong perkembangan dan kemajuan sekolah. Kepala sekolah tidak hanya meningkatkan tanggung jawab dan otoritas dalam program-program sekolah, kurikulum, dan keputusan personal, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk miningkatkan akuntabilitas keberhasilan siswa dan programnya. Kepala sekolah harus pandai dalam memimpin kelompok dan pendelegasian tugas dan wewenang. Pada tingkat sekolah, kepala sekolah sebagai figure kunci dalam mendorong perkembangan dan kemajuan sekolah. Kepala sekolah tidak hanya meningkatkan tanggung jawab dan otoritas dalam program-program sekolah, kurikulum, dan keputusan personal, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk miningkatkan akuntabilitas keberhasilan siwa dan programnya. Salah satu ukuran penting yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat terhadap peningkatan kualitas pendidikan di sekolah adalah prestasi belajar siswa. Ukuran keberhasilan implementasi MBS tidak terlepas dari tiga pilar kebijakan pendidikan nasional, khususnya pilar ke dua dan ketiga, yaitu pemerataan dan peningkatan akses serta peningkatan mutu dan tata layanan.

BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji persepsi kepala sekolah tentang pentingnya  sekolah berbasis manajemen ( SBM ) dan tugas kepemimpinan instruksional serta penilaian mereka terhadap kinerja di
SMA Swedia. Berdasarkan hasil pengumpulan data dari survei terhadap 234 kepala sekolah, kami menemukan bahwa 80 % dari administrasi dan 75% tugas pemadam kebakaran dipandang sebagai sangat penting dan dilakukan dengan baik, sementara 68 % dari tugas kepemimpinan instruksional dipandang sebagai kurang penting dari kinerja. Penelitian ini mengkaji bagaimana negara-negara seperti Swedia yang menerapkan MBS  telah menciptakan peran yang tidak terlalu menghabiskan waktu dalam menghadapi tugas administrasi dan secara keseluruhan, pola respon yang ditemukan menunjukkan bahwa kombinasi MBS dan kepemimpinan instruksional di Swedia bekerja secara mirip dengan negara-negara Anglo -Saxon.
Kalau kita kaitkan dengan MBS yang dilaksanakan di Swedia maka tugas kepala sekolah kurang relevan dengan teori yang telah dikemukakan oleh Mulyasa tersebut. Mengapa demikian karena MBS yang diterapkan di Swedia kepala sekolah telah mengesampingkan tugas kepemimpinan instruksional, dan sekolah hanya disibukkan dengan urusan tugas administrasi dan pemadam kebakaran walaupun tidak berarti bahwa mereka mengurangi peningkatan kualitas di daerah pedagogis.
Menurut Nurkholis (2003:264), ada enam faktor pendukung keberhasilan implementasi MBS. Keenamnya mencakup: political will, finansial, sumber daya manusia, budaya sekolah, kepemimpinan, dan keorganisasian. Ukuran keberhasilan implementasi MBS tidak terlepas dari tiga pilar kebijakan pendidikan nasional, khususnya pilar ke dua dan ketiga, yaitu pemerataan dan peningkatan akses serta peningkatan mutu dan tata layanan.

B.     Implikasi
Berdasarkan kesimpulan dari hasil review di atas, maka MBS mempunyai implikasi penting yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat terhadap peningkatan kualitas pendidikan di sekolah adalah prestasi belajar siswa. Dengan MBS semua urusan akan langsung ditangani secara cepat. Ukuran keberhasilan implementasi MBS tidak terlepas dari tiga pilar kebijakan pendidikan nasional, khususnya pilar ke dua dan ketiga, yaitu pemerataan dan peningkatan akses serta peningkatan mutu dan tata layanan. Pada aspek pemerataan dan peningkatan akses, keberhasilan MBS dapat dilihat dari kemampuan sekolah dan daerah dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan.

C.    Saran
Berdasarkan kesimpulan dan implikasi hasil penelitian di atas, maka penulis menyampaikan saran-saran sebagai berikut:
1.     Bagi kepala sekolah, kepala sekolah tidak hanya meningkatkan tanggung jawab dan otoritas dalam program-program sekolah, kurikulum, dan keputusan personal, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk miningkatkan akuntabilitas keberhasilan siswa dan programnya. Kepala sekolah harus pandai dalam memimpin kelompok dan pendelegasian tugas dan wewenang.
2.      Bagi pendidik dan tenaga kependidikan, hendaknya benar-benar melaksanakan tugas yang telah didelegasikan padanya sesuai tugas pokok dan fungsi asing-masing.
3.      Bagi siswa, hendaknya semua siswa mempunyai kesadaran diri untuk menciptakan iklim belajar yang kondusif.
4.   Bagi komite sekolah dan instansi terkait, hendaknya turut berpartisipasi serta membantu kesuksesan pelaksanaan program-program sekolah.

DAFTAR PUSTAKA :
Erik Lindberg dan Vladimir Vanyushyn. 2013. School-Based Management with or without Instructional Leadership: Experience from Sweden. Journal of Education and Learning;  Vol. 2, No. 3 dan P. 39 – 50.
Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). Jakarta.
Departemen Agama. 2005. Pedoman Manajemen Berbasis Madrasah. Jakarta
Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan Implementasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurkholis. 2005. Manajemen Berbasis Sekolah: Teori, Model dan Aplikasi. Jakarta: Grasindo.

Selasa, 10 Januari 2017

TREND SISTEM/TI DALAM BIDANG KESEHATAN & BIDANG MEDIA/NEW MEDIA

TREND SIST./TI DALAM BIDANG KESEHATAN
  • Perkembangan, manfaat, peranan komputer dibidang kedokteran

Perkembangan Komputer Dibidang Kedokteran

Perkembangan, manfaat, peranan komputer dibidang kedokteran Perkembangan Komputer Dibidang Kedokteran Perkembangan teknologi telah merubah bagaimana cara kita hidup dan bekerja. Perkembangan teknologi informasi dunia yang begitu pesat sekarang ini telah merambah ke berbagai sektor. Seiring dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, kita juga dituntut untuk dapat memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut.

Salah satu cara memanfaatkan perkembangan teknologi informasi adalah penggunaan komputer di berbagai bidang kehidupan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh lembaga penelitian Nielsen pada Agustus 2009, 276.9 juta orang menggunakan e-mail di seluruh Amerika, beberapa negara Eropa, Australia, dan Brazil, meningkat hingga 20 percent dibandingkan tahun 2008. Para pekerja, ibu rumah tangga, manajer, dan para remaja menggunakan internet untuk mengirim email, menelusuri internet, mencari data, bersosialisasi, bahkan bermain games.

Penggunaan komputer saat ini sudah mempengaruhi hampir di seluruh aspek kehidupan. Komputer merupakan perangkat elektronik yang tidak lagi asing bagi masyarakat dunia. Saat ini hampir seluruh bidang pekerjaan menggunakan komputer untuk membantu seseorang dalam pekerjaannya. Disisi lain kita menyadari bahwa teknologi komputer merupakan salah satu alat penting dalam peradaban manusia khususnya pada era globalisasi sekarang ini. Manfaat komputer sangat banyak dan beraneka ragam. Pemanfaatan komputer secara bijak akan sangat membantu pada bidang pekerjaan tersebut. Manfaat penggunaan komputer tidak hanya dirasakan oleh para penggunanya tetapi juga akan dirasakan oleh organisasi atau perusahaan di tempat orang tersebut bekerja. Begitu banyak dampak yang ditimbulkan dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat.

Manfaat  Komputer dibidang Kedokteran

Manfaat dari penerapan komputer dalam bidang kesehatan di tiap-tiap aplikasinya antara lain sebagai berikut : ·        

  • Mendiagnosa suatu penyakit dan menentukan obat yang cocok
  • Melihat dan menganalisa organ – organ tubuh bagian dalam manusia 
  • Memonitoring status pasien, merecord data pribadi pasien dan riwayat penyakit pasien
  • Melakukan penelitian ilmiah yang diperlukan
  • Memasukkan, menyimpan, menggelompokkan dan mengolah data – data secara cepat dan mudah
  • Mendeteksi DNA seseorang 
  • Mengecek dan mengethaui hasil tes darah di laboratorium 
  • Sebagai alat Bantu dalam pemeriksaan medis
Intinya, dengan adanya komputer dalam bidang kesehatan sangatlah membantu. Kegiatan – kegiatan yang tadinya belum bisa dilakukan, saat ini sudah dapat dilakukan dengan komputer. Penggunaan komputer membuat pekerjaan seseorang menjadi lebih mudah, cepat dan akurat.

Peranan Komputer dibidang Kedokteran

Dalam bidang kesehatan, komputer sangat berperan penting. Penggunaan komputer dalam bidang kesehatan tidak hanya akan dirasakan manfaatnya oleh para penggunanya, tetapi juga oleh organisasi tersebut, dalam hal ini misalnya rumah sakit, puskesmas, klinik, dan lain sebagainya. Perangkat ini secara tidak langsung dapat menolong jiwa manusia. Komputer dapat digunakan mulai dari penyimpanan dan pengolahan data administrasi suatu rumah sakit atau klinik, hingga melakukan riset bidang kedokteran, mendiagnosis penyakit, menemukan obat yang tepat, serta menganalisis organ tubuh manusia bagian dalam yang sulit dilihat.

Peranan komputer dalam bidang kesehatan sangat banyak dan penting. Sebagai contoh dalam bidang kesehatan peranan – peranan tersebut antara lain :      
- Bidang administrasi
Dengan adanya komputer di dalam dunia administrasi sangat membantu di dalam penyimpanan, pengelompokan, dan pengolahan data. 
       
- Bidang farmasi
 Dalam bidang obat – obatan komputer juga berperan sangat penting dalam farmasi, misalnya untuk merecord resep dan dosis, serta menyimpan data harga obat – obatan tersebut. Selain itu, dengan adanya komputer dalam bidang farmasi juga membantu untuk mengelompokkan macam-macam obat berdasarkan kegunaannya, misalnya Panadol, Feminax, Ponstan adalah obat penahan rasa sakit.
      
- Mendiagnosa suatu penyakit
Dengan adanya komputer DNA yang sudah di rancang khusus di dalam bidang kesehatan mendiagnosa suatu penyakit bukan hal yang sulit lagi, karena dengan menggunakan komputer akan lebih cepat, mudah dan akurat untuk mengetahui nama dan jenis suatu penyakit.  
   
 - Memonitoring status pasien
Pasien yang sudah pernah datang atau baru pertama kali berobat akan dengan mudah dilacak. Data – data personal pasien juga dengan mudah dilihat. Selain itu, dokter ataupun perawat dapat melihat rekaman hasil periksa, keluhan dan riwayat penyakit sebelumnya yang pernah diderita oleh si pasien, tanggal kedatangan pasien terakhir kali berobat, record resep yang pernah diberikan, dan masih banyak lagi.       

- Penelitian
Penelitian ilmiah yang sering dilakukan dalam bidang kesehatan sangatlah bergantung pada penggunaan komputer. Penggunaan komputer dapat memaksimalkan hasil penelitian, karena dengan adanya komputer penelitian itu dapat di telusuri lebih dalam dan lebih detail. Misalnya penelitian untuk mendeteksi bakteri atau virus baru, pendeteksian DNA, dan lain sebagainya

- Melihat dan menganalisa organ – organ tubuh bagian dalam manusia
Untuk dapat melihat organ tubuh bagian dalam manusia telah ditemukan begitu banyak alat canggih, namun hampir seluruh alat tersebut masih bergantung pada perangkat komputer sebagai sarana untuk penyaluran data ataupun gambarnya. Oleh karenanya, komputer memiliki peranan yang vital juga dalam melihat dan menganalisa organ – organ tubuh manusia tersebut.

Pengertian Sistem E-Health

Pengertian
Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat, sehingga mendorong adanya inovasi dan perubahan yang melibatkan eksperimen dalam berbagai bidang, termasuk bidang kesehatan yang menerapkan penggunaan computer dalam kegiatannya atau yang biasa dikenal dengan istilah E-Health.

 E-Health atau Electronic Health adalah penggunaan teknologi informasi dan komunikasi termasuk pula elektronika, telekomunikasi, computer dan informatika untuk memproses berbagai jenis informasi kedokteran, guna melaksanakan pelayanan klinis (diagnose atau terapi), adaministrasi serta pendidikan. Dalam E-health factor jarak tidak dipersoalkan karena semua kegiatannya di lakukan melalui koneksi data dan secara realtime.

Diagram System E-Health
Secara sederhana sistem E-Health terdiri atas sejumlah “Stasiun Medis” yang satu sama lain dihubungkan dalam suatu jaringan (Network). Suatu stasiun medis sendiri dapat terdiri atas :
1. Komputer dengan perangkat lunak di dalamnya
2.Sebuah perangkat antar-muka pasien
3.Sejumlah instrument biomedika (tergantung keperluan)
4.Sebuah perangkat antar-muka pengguna (berikut alat input output yang digunakan)
5.Jaringan dan perangkat telekomunikasi yang tersedia.

Pada dasarnya setiap stasiun medis dapat berhubungan dengan stasiun medis lainnya secara:
1.Real-time (secara sinkron), contohnya saat telekonsultasi antara dokter umum dan dokter spesialis mengenai kasus darurat seorang pasien.
2.Store and forward, pengiriman informasi dan pembacaannya tidak pada saat yang sama, contohnya dalam penyampaian singkat jumlah rekapitulasi jumlah pasien di suatu puskesmas selama sebulan beserta informasi penting secara singkat.

Manfaat Sistem E-Health

Sistem E-Health ini begitu bermanfaat bagi dunia kesehatan dan kedokteran saat ini, dikarenakan untuk mengimbangi tingginya aktivitas dan penyampaian informasi secara detail dan cepat memang memerlukan penerapan suatu teknologi berbasis komputerisasi, berikut manfaat lain dari penerapan sistem E-Health dalam dunia kedokteran :
1.Peningkatan efisiensi atau penurunan biaya.
2.Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
3.Pembuktian diagnose melalui evaluasi ilmiah
4.Pemberdayaan pasien dan konsumen
5.Mendorong terjadinya hubungan yang lebih baik antara pasien dan tenaga kesehatan
6.Pendidikan bagi tenaga kesehatan dan masyarakat
7.Mendorong tumbuhnya komunikasi dan pertukaran informasi antar lembaga pelayanan kesehatan
8.Perluasan ruang lingkup pelayanan kesehatan.

Dalam pelaksanaan sistem ini perlu dilakukan control pada beberapa masalah atau potensi masalah yang pasti akan timbul saat penerapannya sehingga dapat berjalan dengan baik dan terencana. Berikut masalah yang perlu di atasi :
1.Kesiapan sumberdaya manusia
2.Kesiapan organisasi yang terlibat
3.Budaya kerja
4.Perkembangan teknologi dan ketersediaan infrastruktur
5.Masalah birokrasi
6.Hubungan antara konsumen dan tenaga kesehatan

Contoh Penerapan E-Health

Sistem Resep Elektronik
Merupakan sistem komputerisasi penulisan resep obat yang juga dikenal dengan E-Prescription, dimana pada sistem ini dokter menuliskan dan mengirimkan resep kepada bagian farmasi/apotek menggunakan media elektronik menggantikan tulisan tangan dan penggunaan media kertas. Sistem ini dibuat untuk menghindari terjadinya ROM (Reaksi Obat Merugikan) yang biasa disebabkan oleh adanya kesalahan pemakaian obat selama dalam penanganan tenaga kesehatan, yang sebenarnya hal ini dapat dicegah apabila dilakukan dengan lebih teliti dan hati-hati. Kesalahan tersebut dapat dibagi dalam 4 fase :
1.Fase penulisan resep
2.Fase pembacaan resep
3.Fase penyiapan hingga penyerahan resep oleh petugas apotek
4.Fase penggunaan obat oleh pasien 

Bioinformatika
Bioinformatika atau dalam bahasa Inggris di sebut juga denganbioinformatics merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang penerapan teknik komputasional untuk mengelola dan menganalisis infomasi biologis. Bidang ini mencangkup penerapan metode-metode matematika, statistika, dan infomatika untuk memecahkan masalah-masalah biologis, terutama dengan menggunakan sekuens DNA dan asam amino serta informasi yang berkaitan dengannya.

Ilmu bioinformatika muncul atas inisiatif pada ahli ilmu komputer berdasarkan artificial intelligence. Mereka berpikir bahwa semua gejala yang ada pada alam ini bisa dibuat secara artificial melalui simulasi dari gejala-gejala tersebut. Karena itu untuk mewujudkan hal ini, maka diperlukan data-data yang menjadi kunci penentu gejala alam tersebut, yaitu gen yang meliputi DNA atau RNA. 

Bioinformatika ini penting untuk manajemen data-data dari dunia biologi dan kedokteran moderen. Perangkat utama dari bioinformatika adalah program software dan didukung oleh ketersediaan internet.
Perkembangan teknologi DNA rekombian memainkan peranan penting dalam lahirnya bioinformatika. Teknologi DNA rekombian memunculkan suatu penetahuan baru dalam rekayasa genetika organisme yang dikenal dengan bioteknologi. Perkembangan bioteknologi dari bioteknologi tradisional ke bioteknologi modern salah satunya ditandai dengan kemampuan manusia dalam melakukan analisis DNA organisme, sekuensing DNA dan manipulasi DNA.

Sejarah
Istilah bioinformatika pertama kali dikemukakakn pada pertengahan era 1980-an untuk mengacu pada penerapan komputer dalam biologi. Namun, penerapan bidang-bidang dalam bioinformatika seperti pembuatan basis data dan pengmbangan algoritma untuk analisis sekuens biologis sudah dilakukan sejak tahun 1960-an.
Kemajuan teknik biologi molecular dalam mengungkap sekuens biologis dari protein sejak awal tahun 1950-an dan asam nukleat sejak tahun 1960-an mengawali perkembangan basis data dan teknik analisis sekuens biologis. Basis data sekuens protein mulai dikembangkan pada tahun 1960-an di Amerika Serikat, sedangkan basis data sekuens DNA dikembangkan pada akhir tahun 1970-an di Amerika Serikat dan Jerman. Penemuan teknik sekuensing DNA yang lebih cepat menjadi salah satu pembuka jalan bagi proyek-proyek pengungkapan genom, meningkatkan kebutuhan akan pengelolaan dan analisis sekuens, dan pada akhirnya menyebabkan lahirnya bioinformatika.
Pangkalan data utam bagi sekuens asam nukleat saati ini adalah GenBank yang berada di Amerika Serikat, EMBL (The European Molecular Biology Laboratory) yang berada di Eropa, dan DDBJ (DNA Data Bank of Japan) yang berada di Jepang. Kketiga pangkalan tersebut saling bekerja sama dan bertukar data secara harian untuk menjaga keluasan cangkupan masing-masing pangkalan data. Sumber utama data seuens asam nukleat adalah pengumpulan langsung dari peneliti individual, proyek sekuensing genom, dan pendaftaran paten. Entri dalam pangkalan data sekuens asam nukleat pada umumnya mengandung informasi tentang jenis asam nukleat (DNA atau RNA).

Penerapan Utama Bioinformatika 

- Basis Data Sekuens Biologis

Pangkalan data sekuens biologi dapat berupa pangkalan data primer untuk menyimpan sekuens primer asam nulkeat dan protein, sedangkan pangkalan data sekunder digunakan untuk menyimpan motif sekuens protein, dan pangkalan data struktur digunakan untuk menyimpan data struktur protein dan asam nukleat.

- Penyejajaran Sekuens
Merupakan proses penyusunan/pengaturan dua atau lebih sekuens sehingga persamaan sekuens-sekuens tersebut tampak nyata.   
  
- Prediksi Struktur
Protein Secara umum, metode prediksi struktur protein yang ada saat ini dapat dikategorikan ke dalam dua kelompok, yaitu metode pemodelan protein komparatif dan metode pemodelan de novo.
  
  - Analisis Ekspresi Gen
Ekspresi gen dapat ditentukan dengan mengukur kadar MRNA dengan berbagai macam teknik misalnya dengan microarray ataupunSerial Analysis of Gene Expression.

TREND SIST./TI DALAM BIDANG MEDIA/NEW MEDIA

 Manfaat Media
Berikut ini beberapa manfaat media dalam berbagai bidang, yaitu:

- Bidang Sosial
Dalam bidang ini banyak menyita perhatian masyarakat misalnya saja berbagai macam jejaring sosial yang sekarang di minati masyarakat seperti facebook, twitter, skype, yahoo messenger, my space, hello dll. Dengan menggunakan jejaring sosial ini dengan mudah dapat menjalin komunikasid dengan semua user dibelahan dunia manapun.

- Bidang Industri/Dagang
Dalam bidang ini memudahkan bagi siapa pun yang ingin menawarkan/mempromosikan produk tertentu sehingga tidak susah susah untuk membuka toko dan promosi langsung didepan konsumen, melalui new media pedagang dapat mempromosikan produk nya melalui membuka online shop, bisa melalui facebook, twitter atau kaskus.

- Bidang Pendidikan                              
Dalam bidang ini sangat memudahkan bagi pelajar maupun pengajar dalam mendapatkan materi yang di inginkan. Bisa melalui search engine kita bisa mendapatkan segala informasi, atau dengan fasilitas E-book, fasilitas email juga bisa membantu dalan proses mengerjakan tugas atau saling tukar informasi.

- Bidang Lowongan Kerja
Dalam bidang ini bagi yang ingin mencari pekerjaan cukup searching di internet lalu mendaftar secara online bahkan bisa mengikuti tes masuk secara online juga, tidak perlu lagi susah payah datang dari kantor ke kantor.

  • Tantangan New Media

“People are afraid of and resist new media.”(Wartella & Reeves 1983) Kira-kira itulah yang dipikirkan sebagian orang ketika mendengar new media. Di mana sebagian orang mungkin akan takut akan keberadaan media baru sementara sisanya akan bertahan. New media sendiri lahir dari istilah”konvergensi”.

Konvergensi  diartikan sebagai cara menyajikan konten berita melalui platform media yang beragam dalam satu kesatuan (usaha) maupun komando (cara kerja di News Room), menghadirkan konten yang beragam kepada khalayak yang beragam pula sesuai minat dan media yang digunakan (elektronik, online, mobile).
Maka tidak mengherankan jika saat ini komputer dapat difungsikan sebagai pesawat televisi, atau telepon genggam dapat menerima suara, tulisan, data maupun gambar tiga dimensi (3G). Dalam dunia penyiaran, digitalisasi memungkinkan siaran televisi memiliki layanan program seperti layaknya internet. Cukup dengan satu perangkat, seseorang sudah dapat mengakses surat kabar, menikmati hiburan televisi, mendengar radio, mencari informasi sesuai selera, dan bahkan menelpon sekalipun.
Konvergensi sendiri dianggap jalan keluar jika kita bicara media print, media elektronik, maupun media online. Orang menganggap dengan mengkonvergensi beberapa bentuk media, maka tugas mereka dalam menciptakan media baru bisa dinyatakan selesai.

Keuntungan dan Konsekuensi
Dalam konteks besar, sebenarnya konvergensi media bukan hanya mempengaruhi pertumbuhan teknologi yang makin cepat, tetapi juga mengubah hubungan anatar industri, pasar, gaya hidup, dan konsumsi yang apabila ditarik garis panjangnya maka akan mengarah pada bidang ekonomi, politik, pendidikan, dan kebudayaan.
Sekarang makin terasa sedikit banyak terdapat penurunan yang signifikan terhadap pelanggan media print. Sejumlah ahli memprediksi media tradisional(media print) hanya dapat bertahan kurang dari 50 tahun lagi. Hal ini disebabkan masyarakat akan meninggalkana media tradisional(media print) dan beralih pada new media(media online).
Secara tidak sadar konvergensi media memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memperluas pilihan akses media sesuai dengan selera mereka. Namun dari sisi ekonomia, media konvergensi memberikan peluang profesi baru di industeri komunikasi. Konvergensi media menyediakan kesempatan baru yang radikal dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh bentuk informasi secara visual, audio, data dan sebagainya (Preston, 2001: 27).
Pendidikan pun ditilik menjadi suatu hal dasar yang dibutuhkan seseorang untuk berkembang dalam industeri ini. Sumber daya yang berkemampuan tinggi dibutuhkan untuk bekerja dalam new media. Pendidikan yang berujung pada kurikulum yang merangkum berbagai aspek ICT. Namun di sisi lain, perlu diakui new media menjadi sesuatu yang mampu menarik perhatian masyarakat. Karena masyarakat hanya tinggal mencari informasi yang diinginkan dengan bantuan internet, seketika itu pula informasi muncul.

Regulasi  Konvergensi
Disinilah regulasi berperan untuk menjaga kepentingan masyarakat dari kepentingan-kepentingan tertentu. Tujuannya yaitu untuk meminimalisir masyarakat yang memiliki potensi besar untuk menjadi korban konvergensi media, khususnya generasi muda yang dianggap memiliki akses terhadap media konvergen dan rancunya batasan seberapa jauh isi media konvergen dianggap melanggar norma yang berlaku.
Namun, yang menarik ialah bahwa teknologi selalu mendahului regulasi. Bagaimana caranya mengontrol semua ini? Yang dianggap paling berwenang ialah negar akarena negara dianggap penyeimabng antara pasar dan masyarakat. Di sisi lain negara mempunyai wewenang untuk menjaga efektifnya sebuah regulasi.
Secara ideal hubungan antara negara, pasar, dan masyarakat seharusnya berjalan seimbang. Jangan sampai salah satu pihak mendominasi dan masyarakat hanya bisa menerima informasi apa yang diberikan media.


  •   Elemen Media
1. Komunikator 
Komunikator di sini meliputi jaringan, stasiun lokal, direktur, dan staf teknis yang berkaitan dengan sebuah acara televisi. Jadi, komunikator merupakan gabungan dari berbagai individu dalam sebuah lembaga media massa. Dalam sebuah media cetak yang namanya komunikator antara lain reporter, copyeditor, fotografer, dan yang lain yang sedikit banyak ikut menentukan proses penyiaran. Individu bisa menjadi kekuatan dominan, tetapi tim khusus, sejumlah staf ahli merupakan komunikator dalam komunikasi massa.

Dengan demikian, komunikator dalam media massa bukan individu, tetapi sekumpulan orang yang bekerja sama satu sama lain. Ada beberapa karakteristik yang dimiliki oleh komunikator dalam komunikasi massa. Hiebert, Ungurait, dan Bohn (HUB) pernah mengemukakan setidak-tidaknya lima karakteristik:  
1.Daya saing (competitiveness)
2.Ukuran dan kompleksitas (size and complexity)
3.Industrialisasi (industrialization)
4. Spesalisasi (specialization)
5. Perwakilan (representation)

2. Isi
Masing-masing media massa mempunyai kebijakan sendiri-sendiri dalam pengelolaan isinya. Sebab, masing-masing media melayani masyarakat yang beragam juga menyangkut individu atau kelompok sosial. Bagi Ray Eldon Hiebert dkk (1985) isi media setidak-tidaknya bisa dibagi ke dalam lima kategori yakni:
1.Berita dan informasi
2.Analisis dan interpretasi
3.Pendidikan dan sosialisasi
4.Hubungan masyarakat dan persuasi      
5.Iklan dan bentuk penjualan lain    
6.Hiburan. 

3. Audience 
Audience yang dimaksud dalam komunikasi massa sangat beragam, dari jutaan penonton televisi, ribuan pembaca buku, majalah, koran atau jurnal ilmiah. Masing-masing audience berbeda satu sama lain di antaranya dalam hal berpakaian, berpikir, menanggapi pesan yang diterimanya, pengalaman, dan orientasi hidupnya. Akan tetapi, masing-masing individu bisa saling mereaksi pesan yang diterimanya.

Menurut Hiebert dan kawan-kawan, audience dalam komunikasi massa setidak-tidaknya mempunyai lima karakteristik sebagai berikut:
- Audience cenderung berisi individu-individu yang condong untuk berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial di antara mereka. Individu-individu tersebut memilih produk media yang mereka gunakan berdasarkan seleksi kesadaran. ·        
- Audience cenderung besar. Besar disini berarti tersebar ke berbagai wilayah jangkauan sasaran komunikasi massa. ·        
- Audience cenderung heterogen. Mereka berasal dari berbagai lapisan dan kategori sosial. Beberapa media tertentu mempunyai sasaran, tetapi heterogenitasnya juga tetap ada. ·        
- Audience cenderung anonim, yakni tidak mengenal satu sama lain. ·         
- Audience secara fisik dipisahkan dari komunikator. 

4. Umpan Balik 
Ada dua umpan balik (feedback) dalam komunikasi, yakni umpan balik langsung (immediated feedback) dan tidak langsung (delayed feedback). Umpan balik langsung terjadi jika komunikator dan komunikan berhadapan langsung atau ada kemungkinan bisa berbicara langsung. Umpan balik secara tidak langsung, misalnya bisa ditunjukkan dalam letter to the editor/surat pembaca/pembaca menulis.

Umpan balik merupakan bahan yang direfleksikan kepada sumber/komunikan stelah dipertimbangkan dalam waktu tertentu sebelum dikirimkan. Jadi, komunikan memberikan reaksi kepada komunikator dalam jangka waktu tertentu dan tidak langsung seperti dalam komunikasi tatap muka. Bahkan bisa dikatakan, umpan balik tidak langsung merupakan ciri asli yang dimiliki komunikasi massa.

5. Gangguan
Gangguan Saluran
Gangguan dalam saluran komunikasi massa biasanya selalu ada. Di dalam media gangguan berupa sesuatu hal, seperti kesalahan cetak, kata yang hilang, atau paragraf yang dihilangkan dari surat kabar. Gangguan juga bisa disebabkan oleh faktor luar. Misalnya, sepanjang menonton acara televisi atau membaca koran ada dua pasang anak-anak yang sedang berkelahi. Instrupsi orang lain ketika kita membaca majalah juga termasuk gangguan.
Salah satu solusi untuk mengatasi adanya gangguan terhadap saluran (misalnya) adalah pengulangan cara yang disajikan. Cara lain untuk mengatasi gangguan adalah dengan mempertajam saluran komunikasi massa. Misalnya, menghindari munculnya gangguan gelombang pada radio dengan meningkatkan kulitas teknologi yang digunakannya, memperpanjang daya hidup baterai, mengoreksi secara detail kesalahan cetak paragraf pada surat kabar sebelum dicetak atau membersihkan kotoran pada layar televisi.

Gangguan Semantik
Semantik bisa diartikan sebagai ilmu bahasa yang mempelajari tentang tata kalimat. Oleh karena itu, gangguan semantik berarti gangguan yang berhubungan dengan bahasa. Gangguan semantik lebih rumit, kompleks, dan sering kali muncul. Bisa dikatakan, gangguan semantik adalah gangguan dalam proses komunikasi yang diakibatkan oleh pengirim atau penerima pesan itu sendiri.
Di dalam komunikasi antarpersona, kita telah mengetahui gangguan semantik seperti kendala bahasa, perbedaan pendidikan, status sosial ekonomi, tempat tinggal, jabatan, umur, pengalaman, dan minat. Hambatan semantik dalam komunikasi massa berbeda, baik secara kuantitatif maupun kualitatif dari hambatan yang terjadi pada komunikasi antar pesona.

 6.     Gatekeeper 
Istilah gatekeeper ini pertama kali dikenalkan oleh Kurt Lewin dalam bukunya Human Relations (1947), seorang ahli psikologi dari Australia pada tahun 1947. Kata tersebut merupakan sebuah istilah yang berasal dari lapangan sosiologi, tetapi kemudian digunakan dalam lapangan penelitian komunikasi massa.
Di dalam komunikasi massa dengan salah satu elemennya adalah informasi, mereka yang bertugas untuk memengaruhi informasi itu (dalam media massa) bisa disebut dengangatekeeper. Hal itu juga bisa dikatakan, gatekeeper lah yang memberi izin bagi tersebarnya sebuah berita.
Secara umum, peran gatekeeper sering dihubungkan dengan berita, khususnya surat kabar. Editor sering melaksanakan fungsi sebagai gatekeeper ini. Mereka menentukan apa yang dibutuhkan khalayak atau sedikitnya menyediakan bahan bacaan untuk pembacanya. Seoranggatekeeper bisa juga seorang produser film yang mengedit gambar dari gambar aslinya, menyensor, dan sekaligus mana bagian yang tidak sesuai.

7. Pengatur 
Yang dimaksud pengatur dalam media massa adalah mereka yang secara tidak langsung ikut memengaruhi proses aliran pesan media massa. Pengatur ini tidak berasal dari dalam media tersebut, tetapi diluar media. Namun demikian, meskipun diluar media massa, kelompok itu bisa ikut menentukan kebijakan redaksional. Pengatur tersebut antar lain pengadilan, pemerintah, konsumen, organisasi professional, dan sekelompok penekan, termasuk narasumber, dan pengiklanan. Semua itu berfungsi sebagai pengatur.
Pengatur bukanlah gatekeeper. Wilayah gatekeeper di dalam memengaruhi secara langsung kebijakan media. Sementara itu, pengatur itu di luar media biasanya masyarakat atau pemerintah, tetapi secara tidak langsung ikut memengaruhi kebijakan media. 

8. Filter 
Filter adalah kerangka pikir melalui mana audience menerima pesan. Filter ibarat sebuah bingkai kacamat tempat audience bisa melihat dunia. Hal ini berarti dunia riil yang diterima dalam memori sangat tergantung dari bingkai tersebut. Ada beberapa filter, antara lain fisik, psikologi, budaya, dan yang berkaitan dengan informasi.

Filter dibagi menjadi tiga jenis yaitu: ·        
- Filter psikologi ·        
- Filter fisik ·        
- Filter budaya (warisan budaya, pendidikan, pengalaman kerja, sejarah politik.

Semua filter tersebut akan memengaruhi kuantitas atau kualitas pesan yang diterima dan respons yang dihasilkan. Sementara itu, audience memiliki perbedaan filter satu sama lain (Hiebert, Ungurait, dan Bohn 1985).
  • SEO (Search Engine Optimization ) 

SEO atau kepanjangan dari (Search Engine Optimization) adalah suatu cara atau teknik untuk membuat situs atau blog kita berada pada halaman/posisi satu di mesin pencarian (search engine) seperti Google, Bing, dan Yahoo. Pengertian dari SEO juga sangat luas tetapi semuanya mencakup hal yang sama yaitu mengoptimisasi suatu halaman website/blog agar berada pada halaman/posisi satu di search engine dengan kata kunci yang ditarget.

Contoh SEO
Ada sebuah artikel di website ini yaitu “cara membuat jaringan warnet”, kemudian saya optimasi halaman artikel tersebut dengan teknik SEO yang saya gunakan dan dengan mentarget kata kunci “cara membuat jaringan warnet”, setelah saya optimasi dengan baik alhasil halaman tersebut dapat ranking satu dengan kata kunci yang saya target tersebut.











Keuntungan Melakukan SEO
Banyak sekali keuntungan dari melakukan SEO yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, diantaranya yaitu :
1. Mendatangkan Traffic yang Banyak Kita semua pasti tahu jika situs atau blog berada pada halaman satu Search Engine pasti akan mendatangkan pengunjung (Traffic) yang sangat besar, tergantung pada keyword yang kita target dan besar kecilnya data hasil pencarian dari Google Planner.

2. Meningkatkan Penjualan Jika suatu situs menjual suatu produk atau barang seperti lazada.co.id yang menjual aneka barang seperti laptop atau lainnya, maka jika ada orang mencari di google dengan keyword “jual laptop murah” kemudian situs tersebut ranking 1, maka sudah 95% lazada akan mendapatkan penjualan dari hasil SEO tersebut.

3. Meningkatkan Daya Saing Mudah saja untuk keuntungan SEO yang satu ini, jika posisi suatu situs lebih tinggi maka secara otomatis daya saingnya pun akan lebih tinggi. Masih banyak lagi keuntungan dari SEO ini yang tidak saya sebutkan semua, karena saya yakin dengan 3 hal diatas saja pasti anda sudah mengerti mengenai keuntungan SEO.

Sekilas Sejarah SEO
Menurut Danny Sullivan, istilah search engine optimization pertama kali digunakan pada 26 Juli tahun 1997 oleh sebuah pesan spam yang diposting di Usenet. Pada masa itu algoritma mesin pencari belum terlalu kompleks sehingga mudah dimanipulasi. Versi awal algoritma pencarian didasarkan sepenuhnya pada informasi yang disediakan oleh webmaster melalui meta tag pada kode html situs web mereka. Meta tag menyediakan informasi tentang konten yang terkandung pada suatu halaman web dengan serangkaian kata kunci (keyword). Sebagian webmaster melakukan manipulasi dengan cara menuliskan kata kunci yang tidak sesuai dengan konten situs yang sesungguhnya, sehingga mesin pencari salah menempatkan dan memeringkat situs tersebut. Hal ini menyebabkan hasil pencarian menjadi tidak akurat dan menimbulkan kerugian baik bagi mesin pencari maupun bagi pengguna internet yang mengharapkan informasi yang relevan dan berkualitas.

SUMBER :
https://andikaferianblog.wordpress.com/penerapan-komputer-dalam-bidang-kesehatan/ https://boedimanagoes.wordpress.com/2014/09/25/sistem-e-health-dalam-bidang-kesehatan/ http://saramarsya.blogspot.co.id/2016/10/bioinformatika.html https://shaktidarikhwan.wordpress.com/2014/09/29/new-media-definisi-pandangan-manfaat-komponen-aplikasi-dan-menganalisa-serta-menjelaskan-fitur-dari-new-media/ http://adealfira23.blogspot.co.id/2016/09/elemen-elemen-media-massa_30.html http://www.rudinazar.com/apa-itu-seo/

Tugas Penulisan Softskill

TUGAS SOFTSKILL 4 AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI TUGAS PENULISAN NAMA                        :  ANDRU TRI SETYO NPM      ...